P3DINews - Banyak dari kita, bekerja saat ini terasa seperti bersekolah tanpa kegiatan ekstrakurikuler, tanpa waktu untuk berolahraga, dan tanpa istirahat yang mengasyikkan. Itu sebabnya begitu banyak di antara kita merasa bosan, dan kehilangan semangat.
Pandangan kita telah berubah dari sekadar bekerja untuk mencari nafkah menjadi tentang bagaimana kita ingin menjalani hidup kita. Itu juga mengapa tren Work-life balance terdengar diseantero sosial media. Penelitian terbaru dari MIT menemukan bahwa kesehatan dan kebahagiaan kita di tempat kerja bukanlah sekadar nomer dua, melainkan menjadi faktor utama dalam keputusan kita untuk mengambil pekerjaan, tetap bekerja, atau bahkan resign dari pekerjaan.
Mencapai kebahagiaan di lingkungan kerja bukan hanya prestasi bagi karyawan, tetapi juga keberhasilan bagi pengusaha. Penelitian terbaru dari Oxford menemukan korelasi positif antara kebahagiaan karyawan dan peningkatan produktivitas hingga 13%. Sebaliknya, ketidakbahagiaan di tempat kerja telah berdampak besar dengan hilangnya produktivitas global mencapai $7,8 triliun, setara dengan 11% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.
Tentu saja, masalah ketidakbahagiaan di lingkungan kerja saat ini adalah hal yang perlu kita atasi. Namun, untuk mencapainya, kita perlu memulainya dengan langkah-langkah kecil dan
progresif menuju satu sama lain:
1. Fleksibilitas
Pandemik Covid-19 memaksa kita untuk mendorong lebih jauh melewati masalah, memang terlihat seperti rintangan yang sulit, sadar tidak sadar kita berhasil bertahan.
Dapat menjemput anak - anak dari sekolah atau mengurangi penatnya perjalanan pulang-pergi dari kantor, mengapa kita harus menghapusnya ? Terutama ketika bisnis menunjukan hasil yang lebih baik ketika karyawan atau team perform lebih baik jika diberi otonomi lebih.
Organisasi buruh internasional melaporkan pada 2023 menemukan penelitian yang lebih menarik dimana fleksibilitas karyawan mulai dari waktu kerja, pembagian shift dan kerja remote, menghasilkan produktivitas yang jauh lebih baik dan meningkatkan work-life balance. Sebuah survei global yang melibatkan dari 28.000 karyawan Cisco (Perusahaan di US), mengatakan kerja secara remote membuat mereka lebih bahagia, Data juga menyebutkan "60 - 80% peningkatan kinerja karyawan dilakukan diluar jam kerja (remote)".
Industri dunia kerja telah berubah karyawan lebih menginginkan fleksibilitas, walaupun gaji tetap merupakan standar utama dalam memilih pekerjaan.
Fleksibilitas di dunia kerja barat menjadi semangat Pasca - Covid, ketika 3 perusahaan manufaktur mobil melakukan mogok kerja dan meminta "4 hari kerja dalam seminggu".
Para pengusaha perlu merenungkan kembali tentang fleksbilitas disetiap sektor dan setiap posisi, seharusnya tidak terbatas pada posisi tertentu, Penulis percaya bahwa otonomi dapat meningkatkan performa yang lebih baik, ini juga kunci meningkatkan kebahagiaan tenaga kerja yang bahagia dan produktif.
2. Mengembangkan rasa kepemilikan
Rata - rata manusia akan menghabiskan sekitar 80.000 jam di tempat kerja, Bisa kita bayangkan dengan waktu segitu banyak tanpa lingkungan kerja yang positif akan berdampak pada kebahagian karyawan.
Ironi teknologi membuat kita lebih terhubung dan merasa kesepian disaaat bersamaan, dimana sekarang hanya 3 dari 10 tenaga kerja yang memiliki sahabat ketika kerja.
Jon Clifton mengatakan "Kita saat ini menghadapi krisis kesepian global, yang telah ada bahkan sebelum pandemik datang. Sekitar 20% orang dewasa di seluruh dunia mengakui bahwa mereka tidak memiliki seseorang yang bisa mereka hubungi ketika mereka membutuhkan bantuan."
Membangun komunitas di lingkungan kerja terkadang dianggap hal sepele, data mengatakan "Sejak pandemi memiliki sahabat di tempat kerja mempunyai dampak yang lebih besar, seperti merekomendasikan tempat kerja, tidak mudah resign, dan kepuasan lain"
Untuk meningkatkan budaya yang lebih bahagia, penting untuk mengkomunikasikan ketika waktu luang dan self-care sedang dinikmati, seperti menghirup udara segar atau memberikan ruang untuk berpikir kreatif. Persaingan yang tidak sehat juga dapat dikurangi. Kolaborasi yang baik untuk memperkuat pertemanan dapat ditingkatkan melalui tujuan bersama.
Menurut data Great Places to Work, karyawan tiga kali lebih merasa sejahtera jika kerja di lingkungan yang menyenangkan.
Tapi kegiatan menyenangkan tidak seharusnya dipaksakan, Perusahaan - perusahaan besar bahkan menanyakan kepada karyawan mereka, apa yang mereka senangi dan mempertimbangkan pilihan2 karyawan mereka. Kita ambil contoh Google yang mempunyai kolam renang dan taman - taman, tapi apa berenang adalah hobi atau kesenangan semua karyawan Google ? Tidak menurut karyawan Google, kesenangan pada tempat kerja terletak pada Orangnya dan Tujuan, Karyawan2 Google atau biasa disebut Googlers mereka dikasih waktu 20% atau Aturan 20% untuk menghabiskan waktu untuk mempelajari hal - hal atau skill baru atau mengerjakan projek pribadi yang ingin mereka kerjakan.
Atau seperti Visa setiap hari rabu minggu ketiga, membuat acara makan - makan es krim untuk karyawan. Airbnb juga melakukan hal yang sama, Airbnb percaya travelling ada salah satu cara yang paling menyenangkan, jadi mereka memberikan insentif 2000$ untuk karyawan mereka menginap diseluruh fasilitas Airbnb disetiap dunia.
Pemimpin harus ikut serta dalam waktu - waktu luang dan bersantai bersama karyawan untuk meningkatkan persahabatan dan hubungan kerja dalam kehidupan kerja.
Untuk mengembangkan rasa kepemilikan, kita harus pelan - pelan, Niatkan untuk mencari tau apa yang mereka senangi dan apa yang tidak, Untuk menciptakan pola komunikasi yang efektif dengan karyawan, berfokuslah pada keinginan mereka dan ajukan pertanyaan seperti, "Apakah Anda merasa akrab dengan rekan kerja yang lain?", "Bagaimana menurut Anda, agar kami bisa membuat suasana di tempat kerja ini lebih baik dan membuat Anda dan rekan kerja lainnya merasa lebih nyaman?".
3. Menghidupkan lagi tujuan
Terakhir dari artikel ini, kita memerlukan tujuan ditempat kerja agar tetap termotivasi, baik itu untuk mencari nafkah demi keluarga atau karena misi-misi dari perusahaan tersebut. Quiet quitting salah satu tanda-tanda karyawan yang tidak termotivasi di tempat kerja.
Raj Sisodia, penulis buku populer "Firms of Endearment," telah melakukan penelitian selama 15 tahun yang mempelajari perusahaan yang mengamalkan konsep Conscious Capitalism atau Kapitalisme Sadar. Filosofi ini menyatakan bahwa bisnis seharusnya melayani semua pihak terkait, termasuk karyawan, komunitas, dan lingkungan, bukan hanya fokus pada manajemen dan pemegang saham. Menurut Sisodia, perusahaan yang menerapkan kapitalisme sadar memiliki tingkat ROI yang tinggi, mencapai 1,646%, sementara perusahaan S&P 500 hanya mencapai 157% dalam periode yang sama. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa "perusahaan perlu bersedia mengatakan, 'Saya ingin menjadi kapitalis sadar,' bahkan jika hal itu tidak selalu menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi."
Kebahagiaan di lingkungan kerja seharusnya muncul dari koneksi yang lebih mendalam dan berasal dari motivasi internal terkait alasan kita bekerja di sana. Budaya kerja yang memberikan otonomi, perasaan memiliki, dan tujuan bersumber dari pemahaman bersama terhadap visi perusahaan. Dan saat ini, dapat dikatakan bahwa banyak perusahaan dan karyawannya tidak saling memahami.
Namun, kita bisa mengubahnya. Langkah pertama, kita perlu menghentikan upaya keras dan bersedia untuk membuka diri. Mari kita diskusikan secara terbuka tentang ketakutan kita. Temukan area yang masih menyakitkan dan pertimbangkan langkah-langkah untuk menyembuhkannya. Mulailah dengan bertanya kepada karyawan, "Apa yang dapat saya lakukan untuk membuat minggu depan lebih mudah bagi Anda?" dan lanjutkan dari sana.
Itu adalah langkah pertama yang baik. Habis itu, kita perlu untuk sepenuhnya mengadopsi pendekatan yang benar-benar baru dalam menjalani pekerjaan.
Mari kita buat tempat kerja yang lebih bahagia yang menjadi dasar untuk merancang semua rencana kita. Di tengah kondisi polikrisis dunia, perubahan adalah satu-satunya kepastian, mengambil keputusan berdasarkan kesejahteraan semua orang adalah satu-satunya langkah yang benar ke depan.
Kesimpulan : Menciptakan kebahagiaan di lingkungan kerja bukan hanya prestasi bagi para karyawan, tetapi juga merupakan kesuksesan bagi pengusaha. Studi telah membuktikan adanya korelasi positif antara kebahagiaan karyawan dan peningkatan produktivitas hingga 13%.
Sebaliknya, ketidakbahagiaan di lingkungan kerja telah menyebabkan kerugian produktivitas global yang mencapai $7,8 triliun, setara dengan 11% dari Produk Domestik Bruto (PDB) seluruh dunia. Sayangnya, banyak di antara kita tidak termotivasi, dan merasa bosan dalam pekerjaan. Data menunjukkan bahwa 50% tenaga kerja global secara diam-diam merasa ingin berhenti, sedangkan 18% secara terang-terangan mengundurkan diri, dengan jujur mengakui ketidakbahagiaan mereka di tempat kerja.
Tren media sosial seperti #QuietQuitting dan #ActYourWage sudah dilihat lebih dari 1,2 miliar kali, menunjukkan bahwa stres kronis dan kelelahan yang disebabkan oleh pandemi masih mempengaruhi banyak orang. Ketidakbahagiaan di tempat kerja adalah masalah besar yang perlu segera diatasi. Kebahagiaan di tempat kerja harus didasarkan pada hubungan yang lebih dalam dan alasan yang mendalam mengapa kita bekerja di sana. Budaya otonomi, rasa memiliki, dan visi bersama sangat penting, tetapi sepertinya masih banyak perusahaan dan karyawan yang perlu memahaminya sepenuhnya.
Artikel ini membahas tiga langkah yang dapat diambil organisasi untuk membalikkan keadaan.
Tags
Ekonomi